Sang Pelopor Perempuan R.A kartini






Oleh Muthia Zahra rukmana  
Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak Smkn 1 Subang 
Pembimbing Didi Sopyan Sutardi.s.pd

haloo gaiss...
kenalin nama aku Muthia Zahra Rukmana  dan ini blog pertama aku sekaligus tugas
sejarah Indonesia hehehehhe:), disini aku mau bahas tentang Sang Pelopor Wanita Nyaitu R.A KARTINI ,okee markibas (Mari Kita Bahas).

Profil kartini


Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini Lahir pada Tanggal 21 April 1879 Di Jepara Jawa Tengah , Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan.Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri.

Perjuangan Kartini demi hak kesetaraan perempuan

Apa saja si perjuangan kartini demi memperjuangkan kesetaraan hak perempuan? mari kita bahas.

Kartini sebagai Perempuan Jawa ia sangat merasakan ketimpangan sosial antara laki- laki dan perempuan.

Perlu kita tahu Bahwa, Budaya turun-temurun menormalisasi seorang perempuan hanya pasif menjalani alur kehidupan,
Kartini membuktikan bahwa perempuan bisa menggantikan peran laki-laki.

Berkaca dari hal tersebut Kartini mengidamkan persamaan antara Laki -laki dan Perempuan itu sama.
"Kartini ingin menunjukkan jika perempuan tidak hanya 'konco wingking', artinya perempuan bisa berperan lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di bidang pendidikan. Perempuan juga bisa menentukan pilihan hidup tak harus atas paksaan orangtua dan perempuan juga bisa sekolah setinggi-tingginya," kata Pengamat Sejarah Edy Tegoeh Joelijanto (50) yang pernah mengenyam pendidikan di UKDW Jogjakarta dan Universitas Putra Bangsa Surabaya.

Pada zaman itu perempuan tidak diperbolehkan mendapatkan pendidikan. Hanya perempuan bangsawan yang berhak memperoleh pendidikan.

Tapi Kartini beruntung.Sekolah tersebut termasuk sekolah yang bergengsi pada zaman itu ,karena sekola ini hanya diperuntukkan keturunan Eropa ,dan pribumi dari tokoh ternama ,Kartini menyukai kegiatan belajar bahasa Belanda ,karena di sekola itu berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda. Namum Kartini hanya memperoleh hingga umur 12 tahun untuk bersekolah disana ,karena menurut tradisi Jawa anak Perempuan harus tinggal dirumah sejak umur 12 tahun hingga menikah.
Kartini ingin melanjutkan studinya karena ingin mendapatkan hak yang sederajat dengan pria dalam hal pendidikan.

Tapi keinginan untuk sekolah lebih tinggi harus terkubur, karena Kartini harus menikah dengan seorang bangsawan Rembang bernama KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 1903.

Meski demikian, Kartini tak mau mengurung diri, ia justru memanfaatkan kesempatan itu memilih belajar sendiri, membaca, dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda, salah satunya bernama Rosa Abendanon.
Kartini menuang pemikirannya lewat tulisan yang dimuat oleh majalah perempuan d Belanda bernama De Hoandsche Lelie.

Dilansir dari Encyclopaedia Britannica (2015), dalam surat yang ditulisnya, Kartini menyatakan keprihatinannya atas nasib-nasib orang Indonesia di bawah kondisi pemerintahan kolonial.
 
Dan Kartini diberi kebebasan oleh suaminya dan surat -surat yang ditulis ya lalu dibukukan pada Tahun 1922 , tulisan diterbitkan " Habis gelap , Terbitlah terang" diterbitkan oleh oleh balai pustaka
Berkat kegigihannya, Kartini mendirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini (Sekolah Kartini) di Semarang pada 1912.
Kini, Gedung tersebut disebut sebagai Gedung Pramuka.

Kemudian sekolah juga didirikan di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

RA Kartini meninggal pada 17 September 1904 di usia 25 tahun setelah beberapa hari melahirkan. Kartini dimakamkan di Desa Bulu Kabupaten Rembang.

Nahh gaiss sekarang udah tau kan sejarah Kartini demi memperjuangkan hak persamaan perempuan , Perempuan juga mempunyai hak, dan Kartini menjadi contoh untuk kita semua bahwa laki-laki dan perempuan itu sama tidak berbeda hanya gender yang membedakan , semoga membantu ya gaiss ,seeeuu next blogg ..

Babay....








(Sumber: Kompas.com/Puthut Dwi Putranto Nugroho, Ari Welianto | Editor: Dony Aprian, Nibras Nada Nailufar)

Pembimbing Didi Sopyan Sutardi s.pd



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

it's hurt me (1)